Sabtu, 23 Februari 2013

sistem pemipaan dalam gedung



SISTEM PERPIPAAN DALAM SEBUAH BANGUNAN GEDUNG
Pekerjaan pemasangan perpipaan dapat dikelompokkan menjadi 3 bagian, yaitu :
·                     Di atas tanah,
·                     Di bawah tanah,
·                     Di bawah air.
Untuk pemasangan sistem perpipaan di ketiga tempat ini baik pipa proses, pipa utility, mempuyai perhitungan dan permasalan tersendiri, di sini hanya akan dibicarakan butir satu dan dua.
PEMASANGAN PIPA DIATAS TANAH
Pemasangan pipa diatas tanah dapat dilakukan pada rak pipa (pipa rack), diatas penyangga-penyangga pipa, diatas dudukan pipa (sleeper).
Pemasangan pipa diatas tanah ini dapat pula dimasukkan pipa equipment yaitu :
1. Pipa kolom dan vessel.
2. Pipa exchanger.
3. Pipa pompa dan turbin.
4. Pipa kompresor.
5. Pipa utilitas.
Dimana masing-masing pemasangan pipa pada equipment ini mempunyai batasan-batasan khusus sebagai berikut :
1. Pipa Kolom dan Vessel
Pipa yang akan dipasang pada kolom dan vessel harus ditempatkan secara radial disekitar kolom dibagian jalur pipa jalan orang platform dibagian accsess.
Untuk pipa 18” ke atas bisa langsung dilas ke veseel, kecuali pertimbangan pemeliharaan dan akan digunakan sambungan flens. Pengguaan vent atmosferis berkatup dan bertudung harus disediakan pada tempat lokasi titik tertinggi dari veseel, sedangkan drain dipasang pada lokasi rendah yang akan ditentukan olej P dan ID.
Katup pelepas tekanan yang membuang ke dalam sistem blowdown tertutup harus ditinggikan guna memungkinkan bagian pengeluaran pengaliran sendiri kedalam blowndown.
Katup pelepas tekanan yang membuang uap ke udara bebas harus dilengkapi dengan pipa paling sedikit tiga meter di atas setiap platform radius 7,5 meter juga disediakan lubang pembuangan yang besarnya 6mm atau seperempat inch dibawah guna mencegah akumulasi cairan.
2. Pipa Exchanger
Pada pemasangan pipa exchanger tidak boleh boleh dipasang diatas daerah-daerah kanal, tutup shell dan fasilitas –fasilitas lain yang telah terpasang pada exchanger atau handling yang suka digunakan. Ruang-ruang bebas untuk pemasangan flens exchanger harus disediakan. Spool dipasang diluar nozzle kapal guna memungkinkan pemindahan bundel pipa exchanger.
3. Pipa Pompa & Turbin
Pada sunction atau pipa yang mengalirkan aliran disebut juga pipa hisap harus diatur sedemikian rupa guna mencegah penurunan tekanan dan kantung uap yang dapat pula menimbulkan kavitasi pada impeler. Apabila perubahan ukuran diperlukan untuk mempercepat atau memperlambat aliran, maka reducer eksentris harus dipakai bilamana kantung tanpa vent tak dapat dihindari.
Pemasangan pipa pada pompa dan turbin harus diatur sedemikian rupa, Sehingga mudah untuk perawatan dan perbaikan. Hal ini penting untuk mencegah pembongkaran besar yang tak perlu pada pemeliharaan dan perbaikan pipa. Saringan permanen dan sementara harus pada inlet pompa dan turbin.
Sedangkan untuk aliran panas dan dingin harus diperhatikan fleksibilitas, begitu pula kedudukan-kedudukan penyangga haruslah baik dan dapat mengatasi getaran-getaran yang diakibatkan motor pipa serta aliran.
4. Pipa Kompresor
Pemasangan pipa pada kompresor harus diatur perbaikan dan pemeliharaannya. Sambungan pipa dengan menggunakan flens lebih diutamakan demi memperlancar jalannya perbaikan dan pemeliharaannya.
Sambungan pipa dengan menggunakan flens lebih diutamakan demi memperlancar jalannya perbaikan dan pemeliharaan. Pipa hisap (suction) dan buang (discharge) harus benar-benar diperhatikan eksibitasnya, terutama untuk temperatur rendah atau tinggi dan tekanan tinggi. Masalah getaran termasuk bagian terpenting pada pipa kompresor ini, akibat adanya beban dinamis yang berhubungan dengan kompresor ini karena itu masalah penyangga, guide dan anchor juga harus menjadi perhatian perencana dan divisi teknik.
5. Pipa Utilitas
Pemasangan pipa utilitas ini harus benar-benar dierencanakan sehingga kebutuhan utilitas di proyek dapat terjangkau penggunaannya. Pipa utilitas seperti pipa yang lain haruslah direncanakan beroperasi dengan temperatur dan tekanan berapa.
Perencana atau subheader haruslah dapat memenuhi daerah equipment proses atau kelompok peralatan lainnya yang memerlukan jalur utilitas. Sambungan cabang haruslah dibuat dari atas header. Apabila aliran utilitas berupa uap, jangan lupa membuat kantung-kantung uap pada setiap titik-titik terendah dimana aliran akan mendaki dan diperhitungkan tidak lebih dari 40% tekanannya dalam jarak yang dihitung dalam ft.
Penggunaan katup-katup blok untuk pipa cabang perlu diadakan, sehingga distribusi aliran dapat diatur dengan baik ketempat tempat yang membutuhkan.
Sambungan pipa uap untuk membersihkan vessel dan saluran pipa yang berisi cairan hidrokarbon, terdiri dari dua susunan :
1) Menyediakan pipa uap permanen.
2) Menyediakan sambungan selang sementara antara sumber uap utilitas dan katup blok pada sambungan pengeluaran uap.
Sambungan pipa pengeluaran uap harus dipasang pada vessel vertikal dan terdiri dari pipa 2 inch dengan katup blok yang dipasang pada nozzle vessel diikuti dengan katup check. Katup blowdown diperlukan pada titik rendah antara katup check dan katup-katupheader uap.
Selain itu, digunakan pula pipa 1 inch yang dipasang dengan plug untuk pengeluaran uap dengan katup blok yang dan dilayani oleh selang yang panjangnya antara 15 sampai dengan 20 meter.
PEMASANGAN PIPA DIBAWAH TANAH
Pipa dibawah tanah dapat dibagi dalam 2 bagian :
1) Pipa proses
2) Pipa utilitas
Untuk pipa proses dibawah tanah sedapat mungkin harus dihindarkan, sedangkan pipa utilitas dibawah tanah dapat di klasifikasi menjadi 2 bagian yaitu :
1) Pipa dengan sistem aliran gravitasi.
2) Pipa dengan sistem aliran bertekanan.
Pipa dengan Sistem Aliran Gravitasi
Pipa dengan aliran gravitasi, tergantung pada pusat gravitasi, karena itu jalur-jalur perpipaan harus mempunyai selop (slope). Disarankan perbandingan selopnya 1:100 untuk pipa 4 inch dan keatas, sedangkan untuk piapa 3 inch dan kebawah perbandingan yang disarankan adalah 1:50 untuk setiap jalur dibawah tanah.
Perpipaan dengan aliran gravitasi dapat dilihat sebagai berikut :
I. Air jernih termasuk air hujan, air pembersih, air pemadam kebakaran yang biasa digunakan, dikumpulkan serta dipisahkan dari minyak yang mungkin terdapat dalam sistem tersebut atau yang akan menuju ke sistem tersebut (kali atau kolam).
II. Proses pembuangan, baik pembuangan air, minyak, termasuk pembuangan dari uap dan pembuangan dari pompa, vessel dan sambungan sampel serta kotoran pembuangan. Pada sistem ini rute menuju ke bagian pemisahan dan hidrokarbonnya biasanya dinetralkan.
III. Kombinasi pembuangan adalah pengumpulan dari seluruh pembuangan dengan (utilitas) sistem perpipaan. Ini harus dialirkan menuju ke tempat pemisahan yang besar untuk membawa dan mengkombinasikan aliran dalam pemisahan hidrokarbon dari air.
IV. Pembuangan kotoran manusia akan dialirkan kesuatu tempat khusus (septic tank) yang berada didaerah itu.
V. Pembuangan korosi direncanakan sebagai suatu sistem pemisah pembuangan didalam suatu unit. Disini termasuk asam, amine, karbonat dan lain-lain larutan kimia yang menimbulkan korosi. Pada setiap unit aliran tersebut akan dikumpulkan pada suatu jalur pipa utama dan dialirkan kekolam pembuangan khusus. Setelah itu dari kolam ini akan dipompakan menuju suatu tempat untuk dinetralisasi. Larutan yang telah dinetralkan dan masih dapat digunakan akan dipompakan ke suatu tempat penyimpanan.
Dalam sistem yang begitu luas, penggunaan material untuk konstruksi akan berbeda-beda. Didalam pemilihan bahan harus diperhatikan aliran apa yang akan melalui pipa tersebut.
Didalam pelaksanaan konstruksi perlu juga dapat dicantumkan jarak elevasi dari permukaan tanah ke dalam jalur perpipaan bawah tanah. Begitu juga ketebalan pipa harus diperhatikan, serta perlu tidaknya menggunkan lapisan anti karat, isolasi, selubung atau perlindungan pipa lainnya.
Perhitungan dimensi dari pipa atau elevasi pipa diukur dari dasar pipa bawah tanah. Aliran dari cairan ditentukan oleh banyak/ sedikitnya slope suatu sistem gravitasi dan hubungan ini timbal balik. Para designer dalam perencanaan harus mempertimbangkan elevasi dari permukaan masuknya pipa.
Untuk membicarakan masalah sistem pembuangan, para designer harus mengetahui sistem dibawah ini :
i. Yang paling penting adalah pengumpulan dari pembuangan satu atau dua lateral biasanya ditempatkan pada suatu jalan pipa dengan memasang jalan masuk orang untuk melindungi dari kebakaran dan meluapnya gas.
ii. Lateral adalah jalur pengumpul pembuangan dari satu dua sublateral dan dialirkan kebagian jalur utama melalui man holes yang tertutup.
iii. Sublateral adalah jalur pengumpul pembuangan dari cabang dan dikumpulkan pada suatu penampung lateral.
iv. Cabang-cabang hendaknya dikumpulkan dari berbagai cerobong-cerobong pembuangan atau kolam penampung yang diteruskan ke sublateral.
v. Cerobong-cerobong merupakan tempat titik pengumpulan yang biasanya berjarak dua inch dari permukaan yang telah dikerjakan, untuk pipa baja karbon, penggunaan concentric swage reducer 6”x4” adalah yang bisa digunakan. Ukuran cerobong minimal 4”.
vi. Kolom penampung digunakan untuk pengumpulan pembuangan dari suatu permukaan. Kolam penampung ini biasanya berukuran 2 ft2 dengan kedalam satu sampai satu setengah ft ditutup dengan kisi.
vii. Jarak masuk orang adalah merupakan pusat boks pengumpulan dimana orang dapat masuk kedalamnya untuk membersihkan lateral. Jalur aliran yang datang kembali ditutup untuk mencegah kebakaran dan aliran balik dari gas.
Pemilihan Material yang digunakan
Pemilihan material pipa untuk saluran pembuangan tergantung dari tekanan, temperatur, ketahan serta harga material serta onkos pemasangannya terhadap cairan yang akan dialirkan. Baja karbon yang dilapisi anti karat banyak digunakan pada jalur-jalur pembuangan ini, walau pada dasarnya cukup sulit untuk menspesifikasi penggunaan material yang benar-benar efektif, tapi dari pengalaman pemilihan material merupakan suatu pertimbangan yang cukup penting sebelum mengambil keputusan akhir.
Faktor-faktor yang terpenting harus diperhitungkan juga adalah faktor korosi tanah proyek itu sendiri.
Jenis-jenis material yang umum disunakan antara lain :
I. Pipa yang terbuat dari tanah liar (vertified clay), banyak digunakan untuk aliran pembuangan dengan sistem pengankutan berdasarkan gaya berat, misalnya untuk kotoran-kotoran manusia dan pembuangan kotoran lainnya dengan aliran bertekanan dan temperatur rendah. Juga digunakan jenis ini dibawah bangunan atau concrete yang cukup tebal.
II. Besi tuang untuk dalam tanah (cast iron soil pipe). Pipa ini kemampuan kekuatannya diatas pipa tanah liat dan boleh dipasang dibawah bangunan serta concrete yang tebal. Pipa ini dapat pula mengalirkan cairan yang cukup panas.
III. Pipa baja karbon (carbon steel piping). Pipa ini banyak digunakan biasanya dilapis dengan bahan anti karat. Bahan anti karat ini lebih baik menggunakan pelapis plastik seperti scoth kote atau plicoflex, karena lebih tahan lama dari plastik pelapis aspal residu.
IV. Besi tulang pipa digunakan untuk pembuangan air dengan tekan tertentu.
V. Pipa beton digunakan untuk pembuangan kotoran air dengan ukuran 24 inch atau lebih.
VI. Pipa baja dilapis semen. Untuk pembuangan kotoran cairan yang korosif serta mempunyai kemampuan diatas pipa besi tuang.
VII. Duriron pipe untuk pembuangan cairan dengan tingkat korosi tinggi.
Pedoman Pemasangan
Manholes harus ditempatkan pada daerah-daerah pusat sambungan cabang dan akan siap dialirkan kejalur utama. Untuk jalur pembuangan berukuran 24 inch dan lebih, manholes harus dibuat untuk setiap jarak 300 inch dan disediakan setiap jarak 500 inch untuk pembersihan sistem.
Untuk pemasangan jalur pembuangan bawah tanah haru dipelajari dan di cek :
1) Lokasi kabel listrik dan fasilitas bawah tanah, ukuran dan elevasinya.
2) Jalur masuk dan keluar bangunan (jalur pembuangan) yang dapat diminta dari arsitek atau sipil bangunan tersebut.
3) Lokasi dan elevasi.
4) Lokasi dan elevasi jalur kabel telepon.
5) Gardu listrik, telepon, tonggak-tonggak penghalang dan lain-lain seandainya ada.
Sistem Aliran Bertekanan
Pemindahan aliran air pemadam kebakaran (fire water), air pendingin (cooling water) dan pembuangan proses yang tertutup dan dipompakan keluar dari sistem, dialirkan dengan tekanan, khususnya untuk air pemadam kebakaran dimana tekanan yang diberikan cukup besar. Penggunaan jalur pipa bawah tanah dengan aliran bertekanan ini bahannya harus dipilih teliti. Pemasangan pipa jalur bawah tanah dengan aliran bertekanan mempunyai sambungan atau hubungan dengan jalur pipa diatas tanah untuk aliran yang sama. Sehingga dalam perencanaan sitem perpiapaannya perlu diperhatikan pada daerah atau bagian mana pipa harus ditanam.
Sehubungan dengan aliran yang berbeda-beda, temperatur, tekanan, serta kapasitas yang berbeda-beda pemilihan ukuran pipa setiap jalur dapat ditentukan berdasarkan kebutuhan begitu pula untuk bahan dan schedulenya. Peralatan pelengkap fitting, flens, katup dan instrumentasi disesuaikan dengan kebutuhannya.
Pipa Proses
Pipa yang digunakan tergantung dari temperatur tekanan, tingkat korosi suatu aliran proses. Biasanya digunakan :
1.            besi metal
2.            baja karbon
3.            baja anti karat
4.            baja krom
5.            aluminium
beratus-ratus besi metal banyak digunakan untuk pipa.
PIPA FLARE
Sistem Pembakaran Gas keatas
Sistem ini adalah merupakan sistem pembakaran gas, yang dibuang dengan cara pembakaran. Pembakaran gas keatas ini dibakar diujung flare keudara dengan sistem pengapian.
Pada daerah dingin atau bahkan bersalju dapat dipasang pipa-pipa pemanas uap. Apabila pipa-pipa atau tube pemanas uap dipasang, perlu pula dipasang kantung-kantung perangkap air dan katup buang airnya.
LOADING ARM
Adalah merupakan suatu alat yang umumnya digunakan untuk memasukkan aliran cair yang akan dikapalkan atau dipindahkan dengan sistem kerja.
PIPA POTONG PADA KATUP RELIEF
Apabila pembuangan udara atau gas dari katup relief tidak dibuang kesuatu jalur perpipaan untuk dibakar atau bahkan digunakan, maka dapat pula dibuang langsung ke udara.
Pembuangan gas ke udara dari katup relief ini perlu pula diperhatikan lokasi dan elevasi katup relief serta aliran gas apa. Sehingga pemasangan pipa jalur buang dari katup relief dapat dipasang seefektif mungkin.
Jalur pipa ini umumnya dipotong 30 derajat atau45 derajat pada ujung diatasnya, hal ini telah dilakukan dari generasi ke generasi. Mengapa ujung pipa dipotong, kemungkinan adalah untuk mempercepat aliran meninggalkan platform atau bangunan. Panjangnya pipa buangan ini harus diperhitungkan secara ekonomis. Arah dari pipa buang ini diarahkan keatas atau ke udara, dan oleh karena itu, untuk bagian pipa yang terendah buatlah lubang seperempat inch untuk membuang air apabila kemasukan air hujan.
Pipa Air
Untuk mengatasi tidak lancarnya air pada pagi dan sore hari, apalagi pada saat musim kemarau , dan sambil menunggu upaya yang dilakukan PDAM sebenarnya para pelanggan dapat melakukan sendiri dengan jalan menyempurnakan / merehab instalasi pipa air dalam rumah.
Cara Kerja :
1.            Pada saat malam /siang hari dimana tekanan air PDAM bisa naik setinggi 3 meter,ball valve dibuka sehingga toren akan terisi air.
2.            Pada saat toren sudah terisi penuh/tumpah,ball valve ditutup.
3.            Pada saat pagi/sore hari dimana tekanan air PDAM kecil/aliran mati, ball valve dibuka sehingga air dari toren akan mengalir kebawah menuju kran kamar mandi,kran dapur dan kran lainnya.
4.            Check valve berfungsi untuk menahan aliran air dari toren agar tidak kembali kejaringan pipa induk PDAM.
5.            Toren isi 500 liter untuk pelanggan yang kebutuhannya kurang dari 50 m3 /bulan dan toren isi 1000 liter untuk pelanggan yang kebutuhannya lebih dari 50 m3/bulan.
6.            Ball Valve (stop kran), Check valve (tusen klip) dan toren (tangki air) dapat dibeli ditoko bahan bangunan.
7.            Pemasangan/penyempurnaan instalasi pipa air dalam rumah bisa dikerja pelanggan sendiri atau menghubungi pihak tenisi/instalatur PDAM setempat.
Beberapa keuntungan yang diperoleh yaitu :
- Dengan mengeluarkan biaya tidak terlalu besar
1.            Pelanggan bisa memperoleh air dengan lancar pada setiap saat.
2.            Pelanggan tidak perlu lagi membuat sumur cadangan atau pasang pompa air, yang biayanya jauh lebih mahal.
1. Kloset
Kloset dapat dibagi dalam beberapa bagian menurut konstruksinya
a) Tipe wash out
Tipe ini adalah tipe paling tua dari kloset duduk. Kotoran tidak jatuh ke dalam air yang merupakan sekat, melainkan pada suatu permukaan penampungan yang agak luas dan sedikit berair, sehingga seringkali pada waktu penggelontor tidak bisa bersih betul.akibatnya menimbulkan bau yang tidak sedap.Tipe ini seekarang sudah dilarang pemakaaianya oleh Amerika dan di Indonesia juga.
b) Tipe wash down
Tipe ini mempunyai konstruksi sedemikian hingga kotoran jatuh langsung atau tidak langsung ke dalam air sekat, sehingga bau yang timbul akibat sisa kotoran kurang dibandingkan dengan tipe wash out
c) Tipe siphon
Tipe ini mempunyai konstruksi jalannya air buangan lebih rumit daripada tipe wash down, Jumlah air yang ditahan dalam sekat lebih banyak, muka airnya lebih tinggi daripada tipe wash down.bau yang ditimbulkan pun lebih berkurang.
d) Tipe siphon jet
Tipe ini dibuat agar menimbulkan efek siphon yang lebih kuat, dengan memancarkan air dalam sekat melalui suatu lubang kecil searah aliran buangan. Dibandingkan tipe siphon, tipe ini menggunakan air penggelotor lebih banyak.
e) Tipe blow-out
Tipe ini dirancang untuk menggelotor dengan cepat air kotor dalam mangkuk kloset, tetapi membutuhkanair dengan tekanan sampai 1 kg/cm2 dan menimbulkan suara berisik.
Saluran pembuangan harus fleksibel jika peralatan ini di ganjal di atas kayu, sambungan ini bisa fleksibel atau kaku jika alat ini diganjal di atas lantai beton. Sambungan yang fleksibel dapat dibuat dari :
1.            Pasta/ dempul yang kental berwarna merah atau putih.
2.            Bahan pencampur yang khusus untuk sambungan.

2. Urinoir
Ini adalah instalasi tempat buang air kecil. Urinoir dibuat dari pasangan batu bata atau pasangan beton,yang lebih baik dan sekarang banyak dipergunakan yankni dibuat dari bahan porselen putih, yang banyak dijual dalam berbagai bentuk dan kualitas.Urinoir dipasang pada dinding tembok degan ketinggian yang disesuaikan dengan keadaan.
SISTEM PEMIPAAN PADA BANGUNAN TINGGI
Instalasi pipa pada bangunan tingkat tinggi digunakan untuk mengalirkan air bersih (panas dan dingin ), air es untuk keperluan tata udara, air untuk keprluan pencegahan dan penangglangan bahaya kebakaran , pembuangan air kotor, air buangan , air hujan, dan air limbah.
SISTEM AIR KOTOR DAN AIR BERSIH OLAHAN
Sistem jaringan air pembuangan air kotor dan air bekas memakai sistem campuran yaitu pembuangan dimana air kotor dan air bekas dikumpulkan lalu dialirkan dalam satu saluran . Sumber tempat pembuangan ini berasal dari toilet (closet, wastafel, urinoir,floordrain, bathtub, kitchent zink dll) sistem pembuangan air ini berdasarkan gravitasi, dimana titik yang paling tinggi ketitik yang paling rendah, sehingga dalam instalasi pipa harus dilakukan pengaturan letak dan kemiringan pipa-pipa pembuangan (standar kemiringan), maka diharapkan dapat menyalurkan air kotor / disebut juga air limbah dengan baik dan tidak mengeluarkan bau.
Untuk menghindari bunyi yang berlebihan maka pipa saluran pada setiap lantai dipasang pipa vent (perangkap gedung dan penyalur udara bersih), phitrap (floordrain), leher angsa (wastafel). Seluruh air kotor dan air bekas jatuh pada riser horizontal pada lantai dasar menuju tempat pengolahan air limbah atau disebut juga Swage Treatment Plant (WTP).
SWAGE TREATMENT PLANT (WTP)
Pengolahan limbah di gunakan untuk memproses bakteri-bakteri pada air kotor , ada banyak jenis sistem pengolahan yang dipakai pada setiap gedung diantaranya menggunakan sistem ROTOR DISK dengan menggunakan Fixed Film Reaktor atau pertumbuhan melekat dengan keunggulan keseluruhan limbah dapat masuk tanpa melalui proses pengolahan awal dan sistem ini tidak menimbulkan bau sistem ini dilakukan secara melalui tahap – tahap sebagai berikut yaitu :
1.Primary Clarifier
Pemisahan padatan, pengendapan dan flotasi. sebagian padatan mengendap dan sebagian padatan mengapung berupa skim .
2.Rotor Disk
Secara bertahap air limbah masuk ke rotor zone untuk di proses pengolahan secara biologis oleh biomas yang tumbuh dimedia piringan / rotor disk , yang masing-masing ada 4 zone secara zig – zag dan mengalami kontak oksigen di udara waktu berada diatas air [ zona 1 , pertumbuhan biomas tebal dan berbentuk filament ] sedangkan [ zona 2 , 3 , 4 biomas tumbuh lebih tipis dan kompak , biasanya biomas berwarna coklat, coklat muda, atau kecoklatan , [ pada zona 4 , sebagian air di recycle ke proses awal / kembali ke primary clarifier dan sebagian menuju proses selanjutnya.
3.Final Clarifier
Merupakan pengendapan padatan tersuspensi dan air sudah memenuhi mutu air baku limbah sehingga bisa dibuang ke saluran kota dengan terlebih dahulu di injeksi desinfektan [ kaporit ] untuk membunuh mikro organisme yang berada dalam bak effluent tersebut. Air bersih olahan yang sudah memenuhi mutu kemudian ditampung di groundtank , dengan terlebih dahulu melalui proses backwash melalui media sand filter dan carbon filter . Air bersih olahan ini didistrubusikan untuk penggunaan air siraman taman , air coolling tower dan pendingin [sistem chiller] dan air siraman water closet [ WC ] .
4.Sistem Sumppit Air Hujan
Berfungsi untuk menampung pembuangan air hujan , air buangan dilantai dasar . Sistem pemipaan air hujan terpisah dari sistem air bersih untuk menghindari aliran-balik yang masuk ke dalam pipa saluran lain [ pipa air bersih ] jika pipa air hujan tersumbat . Air hujan yang ditampung dibak summpit dibuang ke saluran kota dengan menggunakan pompa tanpa sudu [ pompa jenis bawah air ].
SISTEM AIR BERSIH
Sumber air bersih untuk gedung didapat dari 2 sumber yaitu :
1.            PDAM
2.            Air Tanah
Sumber air dari PDAM disalurankan melalui pipa saluran kota menuju gedung melalui Valve utama dan meteran air gedung, kemudian ditampung direservoir air bersih . Sumber air dari tanah didapat dengan menggunakan pompa sumur dalam atau pompa DEPPWELL , pompa Deppwell bekerja secara otomatis dan manual berdasarkan sinyal electrode yang terpasang di grountank , biasanya air yang didapat dari pemompaan sumur dalam akan mengalami kekeruhan atau kualitas air kurang baik maka di gunakan grountank I [raw water tank] penampungan air dari tanah dan groundtank II [clean water tank].
Setelah air dipompa lalu ditampung digroundtank I dan dikarenakan kualitas air [temperature,warna,bau,rasa dan kekeruhan] kurang baik maka air di salurkan atau di produksi di WTP [water treatment plant] untuk diproses agar memenuhi standar air minum.
Air di Raw Water Tank dipompa ke sistem WTP melalui pompa / tahap pencampuran dengan Clorint, P A C, Polimer kemudian dioleh dibak CLARIFIER dengan menggunakan Mixer [adukan air berupa baling-baling], kemudian hasil pencampuran dapat dilihat dibak BREAK tank dengan warna air keruh atau bening . Setelah produksi sisa-sisa air keruh / limbah hasil dari bak CLARIFIER di buang kesaluran kota.
Air dari bak BREAK tank disalurkan ke Groundtank II [clean water tank] dengan melalui tahap-tahap penyaringan terlebih dahulu menggunakan SAND filter dan CARBON filter, air di Groundtank II lalu disalurkan dengan menggunakan pompa transfer ke atas gedung {bak penampungan air / Rooftank jenis FRP] lalu di distrubusikan kesetiap titik-titik outlet yang ada disetiap lantai dengan 2 sistem yaitu :
1.            Sistem Tekan yaitu dengan menggunakan pompa booster, pompa booster ini digunakan karena jarak jatuh air tidak bisa mencapai tekanan ideal .
2.            Sistem Gravitasi yaitu sistim yang mengandalkan jatuh air / berdasarkan ketinggian dan untuk mencapai tekanan ideal [ 6 kg ] , maka valve – valve disetiap lantai diatur pada besaran valve .
SISTEM SPRINKLER DAN HYDRANT
Sistem distribusi air pemadam kebakaran diambil dari groundtank / reservoir menggunakan pompa Fire Main Pump, Diesel Fire Pump dan Jocky Pump. Sistem instalasi pipa kebakaran ini bisa tersendiri [ main pump hydrant dan main pump sprinkler ] atau bisa menjadi satu dengan melalui pipa header [ fire main pump, diesel fire pump dan jocky pump ] dan instalasi ini terhubung dengan pressure tank , pada pressure tank terpasang pressure swicth yang digunakan untuk mengoperasikan pompa secara otomatis dan di-set sesuai dengan tekanan [ standat instalasi pipa gedung ] kemudian pipa header dibagi menjadi dua instalasi pipa yaitu pipa hydrant [warna merah] dan pipa sprinkler [warna orange].
1.Pipa Sprinkler
Instalasi pipa ini berfungsi untuk mengatasi kebakaran secara otomatis disetiap ruangan melalui head sprinkler , pipa sprinkler dipasang pada setiap lantai [dalam flapon] dengan jarak antara 3 sampai 5 meter , bila terjadi kebakaran pada salah satu lantai maka panas api dari titik kebakaran akan memecahkan head sprinkler .
2.Pipa Hydrant
Instalasi pipa hydrant berfungsi untuk mengatasi dan menaggulangi kebakaran secara manual dengan menggunakan hydrant box , hydrant box ini tersedia pada setiap lantai dengan beberapa zone /tempat.
Pada hydrant box terdapat fire hose[ selang ] ,nozzle, valve, juga terpasang alat bantu control manual call point, alarm bell serta indicating lamp dan untuk diluar gedung [ area taman / parkir ] terpasang hydrant pillar serta hose reel cabinet.
3.Jocky Fire Pump
Digunakan untuk menstabilkan tekanan air pada pipa dan pressure tank.
4.Main Fire Pump
Digunakan sebagai pompa utama , bila tekanan / pressure tank turun setelah jocky pump tidak sanggup lagi mengatasi [ jocky pump akan mati sesuai dengan setting pressure tank ] maka main pump akan bekerja.
5.Diesel Fire Pump
Digunakan bila terjadi kebakaran dan pompa mengalami kerusakkan atau gagal operasional [listrik padam] dan pompa main pump serta jocky pump berhenti bekerja mensupply air maka diesel fire pump akan melakukan start secara otomatis berdasarkan pressure swicth . Bekerjanya diesel fire pump secara otomatis menggunakan panel diesel stater, panel ini juga melakukan pengisian accu/me-charger accu dan dapat bekerja secara manual dengan kunci stater pada diesel tersebut . Untuk perawatan pada diesel fire pump ini dilakukan pemanasan setiap minggu [2xpemanasan] ,sebelum dilakukan pemanasan diesel dilakukan pemeriksaan pada accu, pendingin air [air radiator] dan peng-checkkan pada pelumas mesin [oli mesin].
6.Siemense Conection
Digunakan bila terjadi kebakaran dan pompa [diesel fire pump, fire main pump dan jocky pump] tidak bisa di operasional / gagal bekerja pmaka dilakukan pengisian air kedalam jaringan pipa dari mobil pemadam kebakaran/ pompa cadangan lain untuk menggantikan fungsi peralatan yang ada dalam keadaan emergency , siemese conection dipasang pada instalasi pipa sprinkler dan hydrant.
7.Sistem Fire Alarm
Fire alarm adalah merupakan sistem untuk membantu pemilik gedung untuk mengetahui secepatnya suatu sumber kebakaran , sehingga sebelum api menjadi besar pemilik gedung sudah dapat mengambil tindakan pemadaman .
Sistem ini memakai panel kontrol [ MCFA ] yang biasanya dikontrol dari ruang teknik dan panel Annuciator [panel kontrol tambahan] di pasang di ruang posko security agar petugas keamanan juga bisa cepat mengetahui lokasi kebakaran pada setiap lantai